SEPAKAT
- Follower
- 87.3M
- Likes
- 1.8B
- Aufrufe
- 2.3M
- Engag.
- 0.6%
@authorrina
AuthorRina ist TikTok-Creator mit 1.2K Follower und 3.6K Likes. Die Videos erreichen im Schnitt 392 Aufrufe, bei einer Engagement-Rate von 7.5%. Meistgenutzte Hashtags: #kbm, #fyp und #lovestory.
Zuletzt aktualisiert:
Neuestes Video: 2026-04-08
"Ayo masuk Liana, inilah rumahku." Dari ruang tengah ini aku melihat Mas Dewa masuk bersama Liana. Mataku tertuju pada perutnya yang masih rata. Mas Dewa tidak mengatakan berapa bulan Liana hamil. Sebelum masuk, Liana memandang sekeliling rumah ini dengan tatapan ... merendahkan. Memang rumah ibu ini besar, tapi jauh dari kata mewah. "Mas, nggak salah ini rumahmu?" tanya Liana seraya melipat kedua tangannya. Mas Dewa hanya salah tingkah seraya menggaruk-garuk kepalanya yang pastinya tidak gatal. "Iy-iya, Li. Ini rumah ibuku." Liana tampak lebih mendominasi. Bukankah di kantor Liana itu hanya sekretaris Mas Dewa? Aku masuk ke kamar ibu. Sejak tadi ibu menanyakan calon menantu barunya itu. "Zahra ..., apa Dewa sudah pulang?" Ternyata ibu belum tidur. "Sudah, Bu Mungkin sebentar lagi mereka akan masuk ke sini." Benar dugaanku, beberapa saat kemudian terdengar bunyi pintu kamar ibu dibuka. "ini Ibuku, Liana." Lagi-lagi Liana menyisir tiap ruangan kamar ini dengan tatapan merendahkan. Ibu yang masih berbaring hanya bisa memandang diam dari jauh. "Ibu, ini Liana, calon menantu ibu." Hatiku terasa diremas ketika Mas Dewa menggandeng tangan Liana dengan mesra menghampiri ibu. Ibu hanya diam. Sementara mas Dewa memberi kode dengan gerakan matanya pada Liana, agar selingkuhannya itu mendekati ibu. Perlahan Liana melangkah mendekati Ibu. Wanita itu sempat melirikku sekilas. Sekuat tenaga aku bersikap tenang. Saat ini aku duduk tepat di sebelah kanan Ibu. " Zahra ...., sana!" Mas Dewa memintaku menjauh dengan gerakan kepalanya. Mungkin suamiku itu ingin Liana yang menggantikan tempat dudukku. Baiklah. Aku turuti dulu kemauanmu, Mas. Liana perlahan mendekat, dengan ragu-ragu wanita itu duduk di tempatku tadi. Namun wajahnya tampak seperti terpaksa. "Bu ..., ini Liana. Di perut Liana ada cucu ibu, loh!" dengan senyum manisnya Liana mencoba menyapa Ibu dengan antusias. Tiba-tiba ibu memalingkan wajahnya ke arah dinding. "Bikin dosa kok bangga," gumam ibu, namun sangat jelas terdengar oleh kami. Wajah Liana berubah pias. "Ibu .... ini salah aku. Bukan Liana." Mas Dewa berusaha membela selingkuhannya. Ibu tak menyahut. Wajahnya masih mengarah ke dinding. "Sudahlah, Li. Mungkin ibu mengantuk. Ayo aku antar ke kamar!' Liana mengangguk, kemudian berdiri mendekati Mas Dewa kembali, lalu melangkah keluar dari kamar ibu. "Mas ..., Aku mulai besok sudah masuk kerja. Titip Ibumu!" ujarku seraya melewati mereka berdua yang sudah berdiri di depan pintu kamar ibu. "Zahra ...! Aku belum mengizinkan kamu bekerja. Lagian berapa sih gaji kamu? Tiga kali gajimu aku masih mampu menafkahimu!" "Maaf, kita sudah membicarakan hal ini kemarin," tegasku tanpa menoleh lagi padanya dan terus melangkah menuju kamarku. Hatiku pun tak cukup kuat melihat kebersamaan mereka di depan mataku. ----- Aku terjaga saat tengah malam. Mas Dewa tak ada di sebelahku. Pikiran-pikiran buruk melintas di kepalaku. Saat ini calon maduku ada di rumah ini. Apakah mereka tidur satu kamar? Sementara mereka belum sah menikah. Namun, bukankah mereka sudah biasa melakukan itu? "Assalamualaikum., Pak Dewa ..., buka pintunya!" Aku tersentak saat mendengar panggilan dari luar. Aku melirik jam dinding saat ini pukul satu malam. Siapa yang datang malam-malam begini? Gegas aku keluar kamar hendak membuka pintu. Namun aku mendengar suara-suara aneh saat melewati kamar tamu yang letaknya paling depan. "Waalaikumsalam. Pak Rt?" Mataku melebar melihat Pak Rt dan dua orang keamanan berada di depan pintu. "Silakan masuk, bapak-bapak." "Pak Dewa Ada, Mbak?" tanya Pak RT ketika sudah duduk di sofa ruang tamu. "Ada Pak Rt, tapi ..." "Ada apa sih ribut-ribut? Nggak bisa liat orang seneng!" Tiba-tiba terdengar suara Mas Dewa bersamaan dengan pintu kamar tamu terbuka. Kami semua terlonjak saat melihat Mas Dewa dan Liana keluar kamar dengan penampilan berantakan. Astaga ternyata mereka .... Baca di KBM, GoodNovel Judul : Air Mata Maduku Penulis : Rina Novita #goodnovel #kbm #fyp #lovestory #ceritaviral
"Astaghfirullah, Pak Dewa? Ternyata apa yang dikhawatirkan warga benar-benar terjadi." Wajah Pak Rt tampak gusar. Wajahnya memerah. Mungkin saat ini Pak Rt juga sedang menahan amarah. Sontak ketiga tamu pria paruh baya itu berdiri dan menghampiri Mas Dewa. "Oh ... eh . .a ...a ...da Pak Rt?" Wajah sepasang manusia itu mendadak pias. Liana menggeser tubuhnya berlindung di belakang Mas Dewa. Suamiku itu tampak gemetar dan cemas. Namun matanya menatap tajam padaku. Kenapa dia melihatku dengan tatapan curiga? Apa dia pikir aku yang nengundang Pak Rt ke sini? "Pak Dewa, tolong jelaskan pada kami sekarang?" tegas Pak Rt. "Pak Rt, apa tidak bisa besok saja? Ini sudah malam." Mas Dewa mencoba bernegosiasi. Benar-benar tidak punya malu suamiku ini. Sudah jelas bersalah tapi masih mencoba berkilah. "Tidak bisa! Beberapa warga sedang menunggu di pos keamanan." "A-apaa? Apa maksud Pak Rt?" Mas Dewa dan Liana tampak panik. "Beberapa warga melihat Bapak membawa tamu wanita ke rumah. Warga tidak terima karena Pak Dewa tidak melapor dan membawa wanita itu menginap di sini. Warga mencurigai ada yang tidak wajar pada kalian berdua." Pak Rt menjelaskan panjang lebar. "Ini Liana, Pak. Dia calon istri kedua saya. Kami akan segera menikah, kok," jelas Mas Dewa seraya menatap lekat calon maduku itu. "Pak Dewa, kalian belum menikah tapi sudah satu kamar. Nggak bener ini! Sudah, langsung aja kita arak ke pos dan nikahkan mereka malam ini juga Pak Rt!" Salah seorang keamanan lingkungan nampak sudah mulai emosi. "Eh ... eh ... tunggu dulu! Kami memang mau menikah, kok, tapi bukan malam ini!" Mas Dewa mulai ketakutan. "Zahra, ini semua pasti gara-gara kamu! Siapa lagi yang melapor kalau bukan kamu!" Mas Dewa membentakku dengan tatapan nyalang. "Udahlah, Mas. Mau nikah malam ini atau nanti sama aja! Toh kalian udah tidur bareng, kan?" balasku dengan menaikkan alis. Suamiku itu melotot padaku. "Bukan Mbak Zahra yang melaporkan, Pak. Tapi banyak warga yang melihat kemesraan bapak dengan wanita ini. Sedangkan warga tau wanita itu bukan istri Bapak," Beruntung Pak Rt menjelaskan kembali. Wajah Mas Dewa kembali panik. "Sudah Pak Rt, kelamaan! Bisa-bisa warga menyusul kemari!" pungkas salah satu keamanan warga. "Baiklah, silakan hubungi orang tua dari saudari Liana. Kita minta untuk datang ke sini," pinta Pak Rt. "A-apaaa? Orang tua?" teriak Mas Dewa dan selingkuhannya itu bersamaan. Kebingungan dan kepanikan tampak dari wajah keduanya. "Ya! Kami tunggu!" tegas pak Rt lagi. "Segera dihubungi orang tuanya, Mbk Liana! Jangan sampai warga di pos mengamuk karena menunggu lama." Salah seorang warga yang bersama pak RT mencoba mengingatkan Liana. Astaga! Ibu. Gegas aku melangkah cepat menuju kamar ibu Apa ibu mendengar semua ini? . Perlahan aku membuka pintu kamar Ibu. Ternyata ibu benar terjaga. Keributan di ruang tamu tadi terdengar hingga ke kamar Ibu. Aku menghampiri Ibu dan duduk tepat di sebelahnya "Ada apa, Zahra?" tanya ibu dengan suara lemah. "A-ada Pak Rt, Bu." Ibu diam. Matanya memandang kosong pada langit-langit kamar "Dewa ... Ibu kecewa sama kamu," gumam Ibu mertuaku itu. Sepertinya Ibu sudah menduga apa yang sedang terjadi. "Ibu mau ke depan?" Wanita yang tampak mulai keriput di wajahnya itu menggeleng. "Ibu malu, Zahra. Dewa sudah mencoreng wajah Ibu. Dewa sudah mengotori muka Ibu." Wajah ibu merah padam. Matanya mulai mengembun. Emosi dan rasa malu pasti dirasakan ibu saat ini. "Ibu ..., Ibu tenang ya! Jangan terlalu dipikirkan." Tubuh Ibu bergetar hebat. Ibu menangis. Aku menemani Ibu sampai beliau merasa tenang dan kembali terlelap. Aku terjaga menjelang subuh. Ternyata aku tertidur di sebelah ibu dengan posisi duduk di karpet dan merebahkan kepalaku di samping ibu. Astaga! Bukankah hari ini adalah hari pertama aku bekerja? Baca di KBM, GoodNovel Judul : Air Mata Maduku Penulis : Rina Novita #goodnovel #kbm #fyp #lovestory #ceritaviral
"Astaghfirullah, Pak Dewa? Ternyata apa yang dikhawatirkan warga benar-benar terjadi." Wajah Pak Rt tampak gusar. Wajahnya memerah. Mungkin saat ini Pak Rt juga sedang menahan amarah. Sontak ketiga tamu pria paruh baya itu berdiri dan menghampiri Mas Dewa. "Oh ... eh . .a ...a ...da Pak Rt?" Wajah sepasang manusia itu mendadak pias. Liana menggeser tubuhnya berlindung di belakang Mas Dewa. Suamiku itu tampak gemetar dan cemas. Namun matanya menatap tajam padaku. Kenapa dia melihatku dengan tatapan curiga? Apa dia pikir aku yang nengundang Pak Rt ke sini? "Pak Dewa, tolong jelaskan pada kami sekarang?" tegas Pak Rt. "Pak Rt, apa tidak bisa besok saja? Ini sudah malam." Mas Dewa mencoba bernegosiasi. Benar-benar tidak punya malu suamiku ini. Sudah jelas bersalah tapi masih mencoba berkilah. "Tidak bisa! Beberapa warga sedang menunggu di pos keamanan." "A-apaa? Apa maksud Pak Rt?" Mas Dewa dan Liana tampak panik. "Beberapa warga melihat Bapak membawa tamu wanita ke rumah. Warga tidak terima karena Pak Dewa tidak melapor dan membawa wanita itu menginap di sini. Warga mencurigai ada yang tidak wajar pada kalian berdua." Pak Rt menjelaskan panjang lebar. "Ini Liana, Pak. Dia calon istri kedua saya. Kami akan segera menikah, kok," jelas Mas Dewa seraya menatap lekat calon maduku itu. "Pak Dewa, kalian belum menikah tapi sudah satu kamar. Nggak bener ini! Sudah, langsung aja kita arak ke pos dan nikahkan mereka malam ini juga Pak Rt!" Salah seorang keamanan lingkungan nampak sudah mulai emosi. "Eh ... eh ... tunggu dulu! Kami memang mau menikah, kok, tapi bukan malam ini!" Mas Dewa mulai ketakutan. "Zahra, ini semua pasti gara-gara kamu! Siapa lagi yang melapor kalau bukan kamu!" Mas Dewa membentakku dengan tatapan nyalang. "Udahlah, Mas. Mau nikah malam ini atau nanti sama aja! Toh kalian udah tidur bareng, kan?" balasku dengan menaikkan alis. Suamiku itu melotot padaku. "Bukan Mbak Zahra yang melaporkan, Pak. Tapi banyak warga yang melihat kemesraan bapak dengan wanita ini. Sedangkan warga tau wanita itu bukan istri Bapak," Beruntung Pak Rt menjelaskan kembali. Wajah Mas Dewa kembali panik. "Sudah Pak Rt, kelamaan! Bisa-bisa warga menyusul kemari!" pungkas salah satu keamanan warga. "Baiklah, silakan hubungi orang tua dari saudari Liana. Kita minta untuk datang ke sini," pinta Pak Rt. "A-apaaa? Orang tua?" teriak Mas Dewa dan selingkuhannya itu bersamaan. Kebingungan dan kepanikan tampak dari wajah keduanya. "Ya! Kami tunggu!" tegas pak Rt lagi. "Segera dihubungi orang tuanya, Mbk Liana! Jangan sampai warga di pos mengamuk karena menunggu lama." Salah seorang warga yang bersama pak RT mencoba mengingatkan Liana. Astaga! Ibu. Gegas aku melangkah cepat menuju kamar ibu Apa ibu mendengar semua ini? . Perlahan aku membuka pintu kamar Ibu. Ternyata ibu benar terjaga. Keributan di ruang tamu tadi terdengar hingga ke kamar Ibu. Aku menghampiri Ibu dan duduk tepat di sebelahnya "Ada apa, Zahra?" tanya ibu dengan suara lemah. "A-ada Pak Rt, Bu." Ibu diam. Matanya memandang kosong pada langit-langit kamar "Dewa ... Ibu kecewa sama kamu," gumam Ibu mertuaku itu. Sepertinya Ibu sudah menduga apa yang sedang terjadi. "Ibu mau ke depan?" Wanita yang tampak mulai keriput di wajahnya itu menggeleng. "Ibu malu, Zahra. Dewa sudah mencoreng wajah Ibu. Dewa sudah mengotori muka Ibu." Wajah ibu merah padam. Matanya mulai mengembun. Emosi dan rasa malu pasti dirasakan ibu saat ini. "Ibu ..., Ibu tenang ya! Jangan terlalu dipikirkan." Tubuh Ibu bergetar hebat. Ibu menangis. Aku menemani Ibu sampai beliau merasa tenang dan kembali terlelap. Aku terjaga menjelang subuh. Ternyata aku tertidur di sebelah ibu dengan posisi duduk di karpet dan merebahkan kepalaku di samping ibu. Astaga! Bukankah hari ini adalah hari pertama aku bekerja? Baca di KBM, GoodNovel Judul : Air Mata Maduku Penulis : Rina Novita #goodnovel #kbm #fyp #lovestory #ceritaviral
Am 2026-10-23 hat AuthorRina (@authorrina) 1.2K TikTok-Follower.
SEPAKAT
terus? @vilmei disini @meibie.beauty
No
Business inq : 0823-5341-3898 (Revorsteve)
RUMAH IMPIAN IBNU LITA❤️ ❤️👇🏻
Founder ̳o̳f̳ @scentsitive.id Business inq👇: 0813-8333-996 (putri)
living life to the fullest of capacity 💯🚀 LLTTFOC
Endorsement & Business Enquiries : +62 821-1014-540