kbKbm App

Kbm App

@kbm_app

Jasprom dm.. Rekomendasi cerita kbm app... Selengkapnya ada di Kbm app.. Video lebih panjang ada di yt ya. link di bawah ...

Kbm App is a TikTok creator in Indonesia with 1.1K followers and 531 likes. Their videos average 2K views, an engagement rate of 3.1%. Most-used hashtags: #ceritakbm, #kbmapp and #novelkbm.

https://www.youtube.com/@ferisahara
1.1K
Followers
3
Following
531
Likes
2K
Avg views
Engagement: 3.1% Indonesia 🗣️ Indonesian
1.1K
Followers
531
Total likes
2K
Avg views
16
Videos
3
Following
0
Favorited
3.1%
Engagement

Growth & Forecast

Last updated7-day forecast30-day forecast
Followers1.1K🔒 Pro🔒 Pro
Total likes531🔒 Pro🔒 Pro
Videos16🔒 Pro🔒 Pro
Avg views2K🔒 Pro🔒 Pro

Unlock the full report

Contact email, growth history and forecasts, and the full video archive are part of Pro.

View full report →

Pro is free during the beta: start a trial, no credit card required.

Contact and links

Last updated:

TikTok profile

Recent videos

Latest video: 2026-10-24

Raras melangkah pelan masuk ke kamar pelayan di pojok dapur. Meski bersih, ukurannya sangat sempit jika dibandingkan dengan kamarnya yang megah di Jakarta. Sambil menghenyakkan tubuh di pembaringan yang agak keras, benaknya tak berhenti berputar. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Penampilannya kelihatan sangat dewasa dan matang. Mungkin berusia pertengahan tiga puluh, tetapi kenapa ia tinggal sendirian di rumah serba mahal ini? Sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan seorang istri, atau setidaknya wanita lain yang menyambut kedatangannya. Pria itu sangat tampan dengan rahang tegas dan perawakan kokoh, namun aura dinginnya begitu membekukan. Ia tadi menatap Raras seolah Raras cuma gumpalan parasit yang mengotori mobil mewahnya. Padahal, sebelum hari ini, Raras dikenal sebagai gadis yang amat cantik dan menarik. Gavin bahkan sempat mengagumi bertahun-tahun dan mengikatnya. Raras meremas ujung kemejanya, lalu secara refleks tangannya terangkat ke belakang kepala hendak merapikan rambut panjangnya, namun jemarinya hanya menyapu kulit tengkuk yang terbuka dan kasar. Rambutnya cepak. Raras meringis tertahan. Ia lupa, penampilannya sekarang lebih mirip pemuda gembel daripada seorang wanita anggun. "Coba saja aku bertemu dengannya saat aku masih menjadi putri keluarga Danujaya," bisik Raras dalam hati dengan sisa-sisa gengsi yang terluka. "Dia pasti tidak akan berani menyepelekanku sampai menyuruhku tidur di kamar pembantu seperti ini." Tiba-tiba, suara langkah kaki berat dari lantai atas terdengar mendekat ke arah area dapur bersih. Raras membeku, mengintip dari balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Pria itu berdiri membelakangi koridor, menerima sebuah panggilan telepon yang suara dari seberang transmisinya bocor keras memecah keheningan malam. Suara melengking seorang wanita terdengar begitu marah dan penuh tuntutan. "Nick! Kamu sudah sampai di Bandung, kan?! Kenapa kamu pulang tidak memberi kabar sama sekali ke aku?! Kamu sengaja mau menyembunyikan sesuatu dari aku?!" Laki-laki yang dipanggil 'Nick' itu hanya diam dengan rahang mengeras, menghembuskan napas berat tanpa niat membalas amukan wanita di telepon itu. Di balik celah pintu kamar pelayan, tubuh Raras mendadak kaku. Jantungnya berdegup liar. Namanya Nick? Dan ... siapa wanita itu? Mungkin istrinya? Apa jadinya jadi jika wanita tersebut mendadak datang dan menemukan ada perempuan asing bersembunyi di rumah ini? . "Nick? Jadi namanya Nick?" "Mas Nick? Tuan Nick ... atau Om Nick?" Raras terkekeh pelan sendirian setelah menutup rapat pintu kamar pelayan itu. "Om Nick sepertinya lebih cocok," bisiknya pada diri sendiri di balik kegelapan kamar. Pria itu punya pembawaan yang sangat matang, dingin, dan berwibawa. Mirip sekali dengan karakter sugar daddy di film-film romantis Barat. "Ah, andai saja dia tahu kalau aku ini bukan gembel pasar ...." Raras menghela napas panjang, lalu tersenyum kecut. Namun, ia cepat-cepat menepis sisa gengsinya. Tak ada gunanya mencari pengakuan dari orang asing. Toh pada kenyataannya, saat ini ia memang bukan siapa-siapa lagi. Bukan lagi calon menantu keluarga Danujaya yang bergelimang harta, melainkan hanyalah seorang gadis pengangguran yang berada dalam pelarian. Raras melepas kemeja hitam longgarnya. Jemarinya perlahan menyingkap bagian dalam kausnya, menarik keluar sebuah map plastik tipis yang sengaja ia sembunyikan di balik pakaiannya. Ijazah S1 dan beberapa lembar surat penting. Saat di barbershop, Raras harus mengambil keputusan pahit. Ia terpaksa meninggalkan koper besar beserta seluruh pakaiannya demi pergerakan yang lebih cepat, lalu menyusupkan dokumen berharga ini ke balik bajunya. Inilah satu-satunya harta dan modal masa depan yang berhasil diselamatkannya. "Tak apa-apa aku gagal lari ke luar negeri..." gumam Raras serak sambil meraba segel ijazahnya. RARAS - Di Balik Janji Pernikahan  Penulis: Ina Shalsabila  Baca selengkapnya di K B M app #ceritakbm #novelkbm #kbmapp
▶
▶ 289 ❤ 0 💬 0

Raras melangkah pelan masuk ke kamar pelayan di pojok dapur. Meski bersih, ukurannya sangat sempit jika dibandingkan dengan kamarnya yang megah di Jakarta. Sambil menghenyakkan tubuh di pembaringan yang agak keras, benaknya tak berhenti berputar. Siapa sebenarnya laki-laki itu? Penampilannya kelihatan sangat dewasa dan matang. Mungkin berusia pertengahan tiga puluh, tetapi kenapa ia tinggal sendirian di rumah serba mahal ini? Sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan seorang istri, atau setidaknya wanita lain yang menyambut kedatangannya. Pria itu sangat tampan dengan rahang tegas dan perawakan kokoh, namun aura dinginnya begitu membekukan. Ia tadi menatap Raras seolah Raras cuma gumpalan parasit yang mengotori mobil mewahnya. Padahal, sebelum hari ini, Raras dikenal sebagai gadis yang amat cantik dan menarik. Gavin bahkan sempat mengagumi bertahun-tahun dan mengikatnya. Raras meremas ujung kemejanya, lalu secara refleks tangannya terangkat ke belakang kepala hendak merapikan rambut panjangnya, namun jemarinya hanya menyapu kulit tengkuk yang terbuka dan kasar. Rambutnya cepak. Raras meringis tertahan. Ia lupa, penampilannya sekarang lebih mirip pemuda gembel daripada seorang wanita anggun. "Coba saja aku bertemu dengannya saat aku masih menjadi putri keluarga Danujaya," bisik Raras dalam hati dengan sisa-sisa gengsi yang terluka. "Dia pasti tidak akan berani menyepelekanku sampai menyuruhku tidur di kamar pembantu seperti ini." Tiba-tiba, suara langkah kaki berat dari lantai atas terdengar mendekat ke arah area dapur bersih. Raras membeku, mengintip dari balik celah pintu kamar yang sedikit terbuka. Pria itu berdiri membelakangi koridor, menerima sebuah panggilan telepon yang suara dari seberang transmisinya bocor keras memecah keheningan malam. Suara melengking seorang wanita terdengar begitu marah dan penuh tuntutan. "Nick! Kamu sudah sampai di Bandung, kan?! Kenapa kamu pulang tidak memberi kabar sama sekali ke aku?! Kamu sengaja mau menyembunyikan sesuatu dari aku?!" Laki-laki yang dipanggil 'Nick' itu hanya diam dengan rahang mengeras, menghembuskan napas berat tanpa niat membalas amukan wanita di telepon itu. Di balik celah pintu kamar pelayan, tubuh Raras mendadak kaku. Jantungnya berdegup liar. Namanya Nick? Dan ... siapa wanita itu? Mungkin istrinya? Apa jadinya jadi jika wanita tersebut mendadak datang dan menemukan ada perempuan asing bersembunyi di rumah ini? . "Nick? Jadi namanya Nick?" "Mas Nick? Tuan Nick ... atau Om Nick?" Raras terkekeh pelan sendirian setelah menutup rapat pintu kamar pelayan itu. "Om Nick sepertinya lebih cocok," bisiknya pada diri sendiri di balik kegelapan kamar. Pria itu punya pembawaan yang sangat matang, dingin, dan berwibawa. Mirip sekali dengan karakter sugar daddy di film-film romantis Barat. "Ah, andai saja dia tahu kalau aku ini bukan gembel pasar ...." Raras menghela napas panjang, lalu tersenyum kecut. Namun, ia cepat-cepat menepis sisa gengsinya. Tak ada gunanya mencari pengakuan dari orang asing. Toh pada kenyataannya, saat ini ia memang bukan siapa-siapa lagi. Bukan lagi calon menantu keluarga Danujaya yang bergelimang harta, melainkan hanyalah seorang gadis pengangguran yang berada dalam pelarian. Raras melepas kemeja hitam longgarnya. Jemarinya perlahan menyingkap bagian dalam kausnya, menarik keluar sebuah map plastik tipis yang sengaja ia sembunyikan di balik pakaiannya. Ijazah S1 dan beberapa lembar surat penting. Saat di barbershop, Raras harus mengambil keputusan pahit. Ia terpaksa meninggalkan koper besar beserta seluruh pakaiannya demi pergerakan yang lebih cepat, lalu menyusupkan dokumen berharga ini ke balik bajunya. Inilah satu-satunya harta dan modal masa depan yang berhasil diselamatkannya. "Tak apa-apa aku gagal lari ke luar negeri..." gumam Raras serak sambil meraba segel ijazahnya. RARAS - Di Balik Janji Pernikahan Penulis: Ina Shalsabila Baca selengkapnya di K B M app #ceritakbm #novelkbm #kbmapp

Suamiku men y i r a m wa jahku dengan kuah sayur asem panas. Detik itu juga, aku pergi dengan a n a k kembarku, kembali ke orang tua yang c r a z y ri ch. Lihat saja nanti, siapa yang akan terkejut kalau tau fakta ini!! ________ POV Raka “Mas Raka!” Suara Dina terdengar agak ke ra s dari ujung ruang pe ra wat. Aku yang sedang menulis laporan pa si en langsung menoleh. “Ada apa?” tanyaku. Dina berjalan cepat mendekat. Wajahnya terlihat an eh. Antara kaget dan tidak percaya. “Mas dengar sesuatu belum?” Aku me nge rut kan kening. “Dengar apa?” Dina melihat ke kanan dan kiri dulu seolah memastikan tidak ada orang lain yang terlalu dekat. Lalu dia menurunkan suaranya. “Ini tadi temanku kirim pesan.” “Terus?” “Dia kerja di ru ma h  sa kit lain. Katanya dia lihat Mbak Laras.” Tanganku yang memegang pulpen langsung berhenti. “Di mana?” “Di RSKS.” Aku menge rutkan kening. “Terus?” Dina terlihat masih tidak percaya. “Katanya lagi ada acara peresmian.” “Peresmian apa?” Dina menatapku dengan mata besar. “Peresmian Wa kil Dir ek tur baru.” Aku tertawa kecil. “Terus hubungannya dengan Laras apa?” Dina meng gi git  bi birnya. “Katanya … Mbak Laras yang diresmikan.” Beberapa detik aku hanya menatap Dina tanpa berkedip. “Apaan?” Dina cepat-cepat membuka ponselnya. “Nih, aku juga dikirimi foto.” Dia menunjukkan layar ponselnya. Di sana terlihat foto aula ru ma h  sa kit yang cukup besar. Beberapa dok ter berdiri di depan. Dan di tengah-tengah mereka … Aku langsung mengenali wa jah itu. Laras. Dia berdiri di samping seorang pria berjas yang terlihat cukup tua. Pria itu sedang memegang mik rof on. Di bawah foto ada tulisan kecil dari seseorang. “Wa kil Dir ek tur baru RSKS.” Da da ku langsung terasa an eh. Aku menge rutkan kening. “Ini … ed itan?” Dina menggeleng. “Temanku bilang ini acara pagi tadi.” Aku menghembuskan napas pelan. “Tidak mungkin.” Dina mengangkat bahu. “Aku juga ka get.” Aku menatap foto itu lagi. Laras terlihat sangat berbeda. Dia memakai pakaian kerja yang rapi. Rambutnya ditata rapi. Wajahnya terlihat percaya diri. Bukan Laras yang biasanya aku lihat di da pur dengan ce le mek dan ram but diikat se mbar angan. Aku menutup layar ponsel Dina. “Ah, mungkin cuma kebetulan mirip.” Dina langsung berkata cepat. “Temanku bilang jelas itu Laras.” Aku menghela napas. “Dina.” “Iya?” “RSKS itu rum ah sa kit besar.” “Iya.” “Mana mungkin Laras jadi wa kil dire ktur.” Dina mengangkat bahu. “Makanya aku juga heran.” Aku bersandar di kursi. Pikiranku mulai tidak tenang. Kalau itu benar Laras … Bagaimana mungkin? Selama ini dia tidak pernah cerita apa pun tentang kel uarganya. Ru mah orang tuanya saja aku tidak pernah lihat. Aku hanya tahu dia bilang orang tuanya tinggal di luar kota dan aku kira sudah tiada karena dia sering bilang hanya seba tang ka ra. Aku menggeleng. Tidak masuk ak al. Dina tiba-tiba berkata, “Mas … kalau itu benar?” __________ Judul: Istriku Kusi ram Kuah Sayur Asem di Wajahnya  Penulis: Rens09  Baca selengkapnya di K B M app yaaa sudah ending #kbmapp #novelkbm #ceritakbm
▶
▶ 371 ❤ 0 💬 0

Suamiku men y i r a m wa jahku dengan kuah sayur asem panas. Detik itu juga, aku pergi dengan a n a k kembarku, kembali ke orang tua yang c r a z y ri ch. Lihat saja nanti, siapa yang akan terkejut kalau tau fakta ini!! ________ POV Raka “Mas Raka!” Suara Dina terdengar agak ke ra s dari ujung ruang pe ra wat. Aku yang sedang menulis laporan pa si en langsung menoleh. “Ada apa?” tanyaku. Dina berjalan cepat mendekat. Wajahnya terlihat an eh. Antara kaget dan tidak percaya. “Mas dengar sesuatu belum?” Aku me nge rut kan kening. “Dengar apa?” Dina melihat ke kanan dan kiri dulu seolah memastikan tidak ada orang lain yang terlalu dekat. Lalu dia menurunkan suaranya. “Ini tadi temanku kirim pesan.” “Terus?” “Dia kerja di ru ma h sa kit lain. Katanya dia lihat Mbak Laras.” Tanganku yang memegang pulpen langsung berhenti. “Di mana?” “Di RSKS.” Aku menge rutkan kening. “Terus?” Dina terlihat masih tidak percaya. “Katanya lagi ada acara peresmian.” “Peresmian apa?” Dina menatapku dengan mata besar. “Peresmian Wa kil Dir ek tur baru.” Aku tertawa kecil. “Terus hubungannya dengan Laras apa?” Dina meng gi git bi birnya. “Katanya … Mbak Laras yang diresmikan.” Beberapa detik aku hanya menatap Dina tanpa berkedip. “Apaan?” Dina cepat-cepat membuka ponselnya. “Nih, aku juga dikirimi foto.” Dia menunjukkan layar ponselnya. Di sana terlihat foto aula ru ma h sa kit yang cukup besar. Beberapa dok ter berdiri di depan. Dan di tengah-tengah mereka … Aku langsung mengenali wa jah itu. Laras. Dia berdiri di samping seorang pria berjas yang terlihat cukup tua. Pria itu sedang memegang mik rof on. Di bawah foto ada tulisan kecil dari seseorang. “Wa kil Dir ek tur baru RSKS.” Da da ku langsung terasa an eh. Aku menge rutkan kening. “Ini … ed itan?” Dina menggeleng. “Temanku bilang ini acara pagi tadi.” Aku menghembuskan napas pelan. “Tidak mungkin.” Dina mengangkat bahu. “Aku juga ka get.” Aku menatap foto itu lagi. Laras terlihat sangat berbeda. Dia memakai pakaian kerja yang rapi. Rambutnya ditata rapi. Wajahnya terlihat percaya diri. Bukan Laras yang biasanya aku lihat di da pur dengan ce le mek dan ram but diikat se mbar angan. Aku menutup layar ponsel Dina. “Ah, mungkin cuma kebetulan mirip.” Dina langsung berkata cepat. “Temanku bilang jelas itu Laras.” Aku menghela napas. “Dina.” “Iya?” “RSKS itu rum ah sa kit besar.” “Iya.” “Mana mungkin Laras jadi wa kil dire ktur.” Dina mengangkat bahu. “Makanya aku juga heran.” Aku bersandar di kursi. Pikiranku mulai tidak tenang. Kalau itu benar Laras … Bagaimana mungkin? Selama ini dia tidak pernah cerita apa pun tentang kel uarganya. Ru mah orang tuanya saja aku tidak pernah lihat. Aku hanya tahu dia bilang orang tuanya tinggal di luar kota dan aku kira sudah tiada karena dia sering bilang hanya seba tang ka ra. Aku menggeleng. Tidak masuk ak al. Dina tiba-tiba berkata, “Mas … kalau itu benar?” __________ Judul: Istriku Kusi ram Kuah Sayur Asem di Wajahnya Penulis: Rens09 Baca selengkapnya di K B M app yaaa sudah ending #kbmapp #novelkbm #ceritakbm

T a l ak belum dijatuhkan, tapi memberi nafkah untuk sekedar jajan anaknya saja sudah dihentikan. Aku semakin membulatkan te kad untuk pisah dan meng gu g4tnya duluan.  Aku juga ne kad mendatanginya. Pintu rumah tertutup itu kuketuk setelah membuka helem di kepala. Mengucap salam berkali-kali tapi tidak ada sahutan.  "Iyaa, sebentaar." Suara itu kudengar dari dalam. Tidak lama pintu terbuka.  "Eh, Mbak Sinta." Dia anak gadis Kak Listy.  "Bang Kemalnya ada? Apa di re n tal."  "Ada, di dalam. R en tal sedang ditunggui Mamaku. Lagi nemenin tamu." Tamu? Aku mengeryit.  "Masuk dulu, Mbak."  Aku masuk begitu saja.  "Lettanya gak dibawa?" tanyanya. "Nggak." Aku dari pengadilan langsung ke sini. Sudah menyerahkan berkas persyaratan gu ga tan c e rai. Tidak ingin mengajak Letta dalam kegiatan yang tidak sebentar. Dititipkan pada uwaknya meski awalnya gak mau.  "Siapa, Lala?"  "Ini, Mbak Sinta, Nek." Aku terhenti berjalan melihat Bang Kemal duduk dekat dengan perempuan berambut panjang. Tangan perempuan itu memegang lengannya.  "Bagus kamu datang." Ibu Bang Kemal berdiri. "Kenalkan Diana, calon istri Kemal. Alias pengganti kamu."  Dadaku bergemuruh. Bang Kemal melepaskan tangan Diana. Memuakkan sekali dia tampak tersenyum lalu kemudian tegang setelah tahu aku datang. "Sinta?" Bang Kemal beranjak bangun. Aku mendekati mereka. "Letta mana?" tanyanya.  "Aku ke sini untuk menagih nafkah anakmu. Berminggu-minggu kamu sudah melupakan."  "Gak tau malu, datang-datang nge mis." Ibu men ci bir. Wajar, itu untuk cucunya. Mereka keterlaluan. Tidak apa mengabaikanku asal jangan Letta.  "Sekaligus memberi tahu aku sudah meng gu gatmu, Bang. Tunggu su rat pang gi lan itu datang kemari dan selesaikan urusan kita."  "Jadi, kamu dari--" "Ya! aku dari penga di lan aga ma. Sekalian menagih hak Letta." Aku malas mampir ke sini jika tidak ada dua hal yang ingin disampaikan.  "Kasih saja lima puluh ribu, Mal. Cukup itu buat jajannya, jangan banyak-banyak nanti dipake hura-hura sama emaknya." Astagfirullah. Betapa pe lit nenekmu ini, Ta. Dan sudah su'uzon terlalu jauh sama ibu. Diberi naf kah tak seberapa oleh anaknya bagaimana bisa aku hura-hura, yang ada ikut ban ting tulang demi me nam bal kekurangan keperluan rumah tangga.  "Diana, kamu dengar itu kan, mereka sebentar lagi akan ber ce rai. Kamu dan kemal bisa bersama."  Diana tersenyum. Ikutan berdiri. "Setelah lama menunggu, akhirnya aku akan bisa bersamamu lagi mantanku." Dia bermanja lagi pada Bang Kemal. Lelaki itu tidak nyaman diperhatikanku. Tangan Diana dilepaskan.  "Apa kalian menjalin hu bu ngan diam-diam di sini?" tanyaku didera sakit hati mendalam. Bukan lagi sekedar nafkah yang sekadarnya, tapi kini dengan cepatnya sudah ada pengganti.  "Tidak, Sin. Aku tidak bers3lingkuh."  "Tadi kamu terlihat senang."  "Gimana gak senang? Diana itu sama-sama Sar ja na dengan Kemal. Bukan lulusan sekolah kayak kamu. Lebih cantik, tidak seperti kamu yang kumal dan kampungan." Tanganku terkepal. Dari dulu ibu memang kurang menyukaiku. Hanya gara-gara aku orang kampung dan tidak kuliah. Mungkin itu sebabnya dia sengaja menahan ketat ua ng nafkahku sebagai istri Bang Kemal. Sengaja membuatku tidak tahan dan memilih berpisah.  "Diana cantik, Kemal anakku ganteng. Sama-sama Sar ja na. Cocok mereka. Pernah berpacaran juga." Aku tidak ingin menanggapi ucapan yang sengaja memanas-manasi, berbalik pada Bang Kemal. "Kamu tidak ingin menitipkan ua ng jajan anakmu padaku, Bang? Baik, aku pergi!"  Aku melangkah dengan tergesa meninggalkan mereka. "Tunggu, Sin!" Bang Kemal menahan tanganku saat di luar.  "Maafkan aku tidak menemui, Letta."  "Karna kamu dikekepin terus diketiak Ibumu." Kuhempaskan tangan itu.  "Diana bukan siapa-siapa aku, Sin."  "Iya, sekarang masih bukan siapa-siapa. Tapi, sebentar lagi dia akan jadi penggantiku kan?" "Tidak. Kalau bisa cabut gu ga tan ceraimu itu, Sin." "Tidak akan. Aku m u ak sama kamu!"  Bersambung.. Selengkapnya ada di KBM app. Sudah tamat.  Judul : Mengembalikan Suami Pada Ibunya  Penulis : Tika Pena #ceritakbm #novelkbm #kbmapp
▶
▶ 3.5K ❤ 0 💬 0

T a l ak belum dijatuhkan, tapi memberi nafkah untuk sekedar jajan anaknya saja sudah dihentikan. Aku semakin membulatkan te kad untuk pisah dan meng gu g4tnya duluan. Aku juga ne kad mendatanginya. Pintu rumah tertutup itu kuketuk setelah membuka helem di kepala. Mengucap salam berkali-kali tapi tidak ada sahutan. "Iyaa, sebentaar." Suara itu kudengar dari dalam. Tidak lama pintu terbuka. "Eh, Mbak Sinta." Dia anak gadis Kak Listy. "Bang Kemalnya ada? Apa di re n tal." "Ada, di dalam. R en tal sedang ditunggui Mamaku. Lagi nemenin tamu." Tamu? Aku mengeryit. "Masuk dulu, Mbak." Aku masuk begitu saja. "Lettanya gak dibawa?" tanyanya. "Nggak." Aku dari pengadilan langsung ke sini. Sudah menyerahkan berkas persyaratan gu ga tan c e rai. Tidak ingin mengajak Letta dalam kegiatan yang tidak sebentar. Dititipkan pada uwaknya meski awalnya gak mau. "Siapa, Lala?" "Ini, Mbak Sinta, Nek." Aku terhenti berjalan melihat Bang Kemal duduk dekat dengan perempuan berambut panjang. Tangan perempuan itu memegang lengannya. "Bagus kamu datang." Ibu Bang Kemal berdiri. "Kenalkan Diana, calon istri Kemal. Alias pengganti kamu." Dadaku bergemuruh. Bang Kemal melepaskan tangan Diana. Memuakkan sekali dia tampak tersenyum lalu kemudian tegang setelah tahu aku datang. "Sinta?" Bang Kemal beranjak bangun. Aku mendekati mereka. "Letta mana?" tanyanya. "Aku ke sini untuk menagih nafkah anakmu. Berminggu-minggu kamu sudah melupakan." "Gak tau malu, datang-datang nge mis." Ibu men ci bir. Wajar, itu untuk cucunya. Mereka keterlaluan. Tidak apa mengabaikanku asal jangan Letta. "Sekaligus memberi tahu aku sudah meng gu gatmu, Bang. Tunggu su rat pang gi lan itu datang kemari dan selesaikan urusan kita." "Jadi, kamu dari--" "Ya! aku dari penga di lan aga ma. Sekalian menagih hak Letta." Aku malas mampir ke sini jika tidak ada dua hal yang ingin disampaikan. "Kasih saja lima puluh ribu, Mal. Cukup itu buat jajannya, jangan banyak-banyak nanti dipake hura-hura sama emaknya." Astagfirullah. Betapa pe lit nenekmu ini, Ta. Dan sudah su'uzon terlalu jauh sama ibu. Diberi naf kah tak seberapa oleh anaknya bagaimana bisa aku hura-hura, yang ada ikut ban ting tulang demi me nam bal kekurangan keperluan rumah tangga. "Diana, kamu dengar itu kan, mereka sebentar lagi akan ber ce rai. Kamu dan kemal bisa bersama." Diana tersenyum. Ikutan berdiri. "Setelah lama menunggu, akhirnya aku akan bisa bersamamu lagi mantanku." Dia bermanja lagi pada Bang Kemal. Lelaki itu tidak nyaman diperhatikanku. Tangan Diana dilepaskan. "Apa kalian menjalin hu bu ngan diam-diam di sini?" tanyaku didera sakit hati mendalam. Bukan lagi sekedar nafkah yang sekadarnya, tapi kini dengan cepatnya sudah ada pengganti. "Tidak, Sin. Aku tidak bers3lingkuh." "Tadi kamu terlihat senang." "Gimana gak senang? Diana itu sama-sama Sar ja na dengan Kemal. Bukan lulusan sekolah kayak kamu. Lebih cantik, tidak seperti kamu yang kumal dan kampungan." Tanganku terkepal. Dari dulu ibu memang kurang menyukaiku. Hanya gara-gara aku orang kampung dan tidak kuliah. Mungkin itu sebabnya dia sengaja menahan ketat ua ng nafkahku sebagai istri Bang Kemal. Sengaja membuatku tidak tahan dan memilih berpisah. "Diana cantik, Kemal anakku ganteng. Sama-sama Sar ja na. Cocok mereka. Pernah berpacaran juga." Aku tidak ingin menanggapi ucapan yang sengaja memanas-manasi, berbalik pada Bang Kemal. "Kamu tidak ingin menitipkan ua ng jajan anakmu padaku, Bang? Baik, aku pergi!" Aku melangkah dengan tergesa meninggalkan mereka. "Tunggu, Sin!" Bang Kemal menahan tanganku saat di luar. "Maafkan aku tidak menemui, Letta." "Karna kamu dikekepin terus diketiak Ibumu." Kuhempaskan tangan itu. "Diana bukan siapa-siapa aku, Sin." "Iya, sekarang masih bukan siapa-siapa. Tapi, sebentar lagi dia akan jadi penggantiku kan?" "Tidak. Kalau bisa cabut gu ga tan ceraimu itu, Sin." "Tidak akan. Aku m u ak sama kamu!" Bersambung.. Selengkapnya ada di KBM app. Sudah tamat. Judul : Mengembalikan Suami Pada Ibunya Penulis : Tika Pena #ceritakbm #novelkbm #kbmapp

Frequently asked questions

How many followers does Kbm App have?

Kbm App (@kbm_app) has 1.1K TikTok followers as of 2026-10-25.

Similar creators

Top TikTok Creators in Indonesia

View all →
Ria Ricis @riaricis
#3

"Doain aja.." @tokoricisofficial 🛒

Followers
55.1M
Likes
1.8B
Views
2.4M
Engage
0.6%
RIVEL @rivelsumigar
#5

Business inq : 0823-5341-3898 (Revorsteve)

Followers
35.9M
Likes
232.7M
Views
8.8M
Engage
0.5%